Wahana Media Entertaiment

AI Deepfake Mulai Menguasai Fashion dan Entertainment

Ilustrasi wajah model sintetis yang dibuat oleh AI, menampilkan tekstur kulit digital dengan latar belakang gelap dan garis-garis sirkuit, merepresentasikan teknologi deepfake dalam industri fashion.

Teknologi & Budaya | Mei 2026

Bayangkan seorang model yang tidak pernah lelah, tidak pernah menua, tidak pernah meminta bayaran lebih dan selalu tampil sempurna. Itulah janji yang kini ditawarkan AI deepfake kepada industri fashion dan hiburan global.

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan telah berevolusi melampaui sekadar filter foto atau efek sinema. Deepfake teknik memanipulasi wajah dan tubuh menggunakan machine learning kini digunakan secara serius oleh rumah mode besar, studio film, hingga platform streaming untuk memangkas biaya produksi, memperluas kreativitas, dan menjangkau audiens yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Batas antara yang nyata dan yang diciptakan semakin tipis, dan industri yang paling cepat merasakannya adalah dua dunia yang selalu terobsesi dengan citra: fashion dan entertainment.

Fashion: Catwalk Tanpa Model Manusia

Pada 2024, beberapa rumah mode kelas dunia mulai mengintegrasikan model AI ke dalam kampanye iklan mereka. Wajah-wajah sintetis yang tampak sempurna dengan proporsi tubuh yang dipilih secara algoritmik menghiasi billboard digital dan halaman majalah. Merek seperti Levi’s sempat mengumumkan kolaborasi dengan platform model AI, meski kemudian menuai kontroversi besar.

Yang lebih senyap namun lebih luas dampaknya adalah penggunaan deepfake untuk virtual try-on: teknologi yang memungkinkan konsumen “mencoba” pakaian secara digital menggunakan wajah dan tubuh mereka sendiri. Startup seperti Zmo.ai dan Fashable kini menawarkan layanan ini ke brand fashion menengah yang tak mampu membayar sesi foto berulang.

Di balik kemudahan ini, ada perdebatan keras. Serikat pekerja model di Amerika Serikat dan Eropa memperingatkan bahwa teknologi ini mengancam mata pencaharian puluhan ribu model manusia. Di sisi lain, pendukungnya berargumen bahwa AI justru membuka representasi yang lebih luas kulit yang lebih beragam, ukuran tubuh yang lebih inklusif karena tidak ada batasan fisik yang perlu diperdebatkan.

“Kami tidak menggantikan manusia. Kami menciptakan kanvas baru di mana setiap identitas bisa direpresentasikan tanpa batas.” CEO sebuah startup model AI, dalam wawancara dengan Vogue Business

Entertainment: Bintang yang Tidak Pernah Mati

Di industri hiburan, deepfake AI membawa implikasi yang lebih dramatis. Teknologi ini telah digunakan untuk “menghidupkan kembali” aktor yang telah meninggal Paul Walker dalam Fast & Furious 7 menjadi tonggak awal, dan sejak itu batasnya terus bergeser. Kini, studio dapat meremajakan wajah aktor berusia 60 tahun menjadi terlihat 30 tahun, atau menciptakan versi digital penuh dari seorang bintang berdasarkan arsip rekaman lama.

Praktik ini memunculkan gelombang baru kontrak dan kontroversi. Pada 2023, mogok besar SAG-AFTRA di Hollywood salah satunya dipicu oleh ketakutan para aktor bahwa studio akan memindai tubuh dan wajah mereka sekali, lalu menggunakannya selamanya tanpa kompensasi tambahan. Perjanjian yang dicapai kemudian menjadi preseden global pertama yang mengatur penggunaan AI likeness dalam industri hiburan.

Di dunia K-Pop, Korea Selatan menjadi laboratorium terdepan. Grup virtual dan proyek dari label besar seperti HYBE dan SM Entertainment menggabungkan penampilan AI dengan vokalis manusia menciptakan identitas baru yang tidak sepenuhnya nyata, tidak sepenuhnya fiksi.

Musik pun tak luput. Lagu berjudul “Heart on My Sleeve” yang menggunakan suara AI tiruan Drake dan The Weeknd sempat viral sebelum dihapus dari platform streaming pada 2023 menjadi pengingat bahwa deepfake audio bisa sama kuatnya dengan visual. Sejak saat itu, debat hak kekayaan intelektual atas suara manusia terus bergolak di pengadilan dan lembaga legislatif.

Linimasa: Evolusi Deepfake di Dua Industri

2017–2019 — Deepfake lahir di forum gelap. Awalnya digunakan untuk konten non-konsensual, teknologi ini cepat menarik perhatian peneliti dan industri kreatif akan potensinya.

2020–2021 — Masuk ke mainstream produksi. Pandemi mendorong studio film mencari alternatif syuting fisik. Deepfake mulai digunakan secara resmi untuk de-aging dan penggantian wajah dalam pasca produksi.

2022–2023 — Fashion menemukan model AI. Levi’s, H&M, dan sejumlah brand kecil mulai bereksperimen dengan model sintetis. Industri musik dihantam kontroversi suara AI. Mogok SAG-AFTRA mengubah peta regulasi.

2024–2025 — Komersialisasi masif. Alat deepfake berbasis AI tersedia untuk semua kalangan — dari brand besar hingga kreator independen di media sosial. Regulasi mulai dirumuskan di Uni Eropa dan beberapa negara Asia.

2026 ke depan — Era baru identitas sintetis. Batas antara penampil manusia dan AI semakin kabur. Pertanyaan tentang kepemilikan citra, persetujuan, dan hak manusia menjadi isu hukum dan etika paling mendesak.

Etika di Persimpangan Jalan

Di balik kilau teknologi, ada pertanyaan yang semakin mendesak: siapa yang memiliki sebuah wajah? Saat seseorang telah memberikan persetujuan untuk dipindai, apakah itu berarti identitas digitalnya bisa digunakan selamanya, dalam konteks apa pun?

Para pakar hukum menekankan perlunya regulasi yang jelas, terutama soal informed consent persetujuan yang diberikan dengan pemahaman penuh tentang bagaimana data biometrik akan digunakan. Uni Eropa melalui AI Act (mulai berlaku penuh 2026) menjadi yurisdiksi pertama yang mewajibkan transparansi pada konten AI, termasuk kewajiban pelabelan deepfake di platform publik.

Survei 2025 terhadap 1.200 pekerja kreatif di Asia Tenggara menunjukkan 54% khawatir dengan dampak AI terhadap pekerjaan mereka, namun 61% juga percaya bahwa AI bisa menjadi alat kolaboratif yang memperluas kemampuan kreatif mereka jika digunakan secara etis dan transparan.

Di Indonesia sendiri, industri periklanan dan entertainment lokal mulai merasakan gelombang ini. Beberapa agency besar di Jakarta telah menggunakan model AI dalam kampanye digital klien mereka, sementara diskusi tentang regulasi masih bergulir lambat di tingkat kebijakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *