Billboard kembali mengubah aturan main. Kali ini, lembaga chart musik paling berpengaruh di Amerika Serikat tersebut memutuskan untuk menaikkan nilai streaming gratis (ad-supported) dalam perhitungan chart resminya, termasuk Hot 100 dan Billboard 200. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan chart dengan realitas konsumsi musik saat ini, di mana sebagian besar pendengar masih mengakses musik tanpa berlangganan layanan premium.
Dalam sistem terbaru, perbedaan nilai antara streaming berbayar dan gratis kini semakin kecil. Jika sebelumnya streaming berbayar memiliki bobot jauh lebih besar, kini Billboard menganggap streaming gratis juga memiliki dampak signifikan terhadap popularitas sebuah lagu atau album. Intinya, musik yang sering diputar meski tanpa langganan tetap dianggap relevan secara kultural.
Namun, perubahan ini justru memicu reaksi keras dari YouTube. Platform video musik terbesar di dunia tersebut menilai metode Billboard masih belum cukup adil. YouTube berpendapat bahwa setiap stream seharusnya dihitung setara, tanpa membedakan apakah pengguna membayar atau tidak. Menurut mereka, popularitas musik seharusnya diukur dari seberapa banyak orang benar-benar mendengarkan dan terlibat, bukan dari model bisnis di balik platformnya.
Akibat perbedaan pandangan ini, YouTube mengambil langkah tegas: menarik seluruh data streaming-nya dari perhitungan chart Billboard AS. Artinya, mulai awal 2026, view dan stream dari YouTube tidak lagi berkontribusi pada posisi lagu dan album di chart Billboard. Keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat YouTube telah menjadi bagian dari sistem chart Billboard selama lebih dari satu dekade.
Dampaknya bisa besar. Banyak lagu terutama yang viral secara visual, kuat di video, atau populer di kalangan audiens non-premium berpotensi kehilangan “tenaga” di chart. Di sisi lain, Billboard tetap pada posisinya: chart bukan hanya soal seberapa viral sebuah lagu, tapi juga bagaimana musik tersebut berkontribusi secara ekonomi dalam industri.
Pada akhirnya, konflik ini membuka kembali pertanyaan lama yang belum selesai dijawab industri musik: apakah popularitas diukur dari nilai budaya atau nilai ekonomi? Dan di era streaming yang makin kompleks, jawabannya mungkin tidak sesederhana satu angka di chart.
