Dalam satu dekade terakhir, industri film global bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Data menunjukkan lebih dari 70% konsumsi konten film dan serial kini terjadi di platform streaming, menjadikan pemain seperti Netflix dan Paramount bukan sekadar distributor, tetapi pengendali ekosistem hiburan itu sendiri. Namun memasuki 2026, arah industri ini semakin kompleks. Di tengah wacana merger besar Netflix dan Paramount, muncul satu variabel lain yang tak kalah disruptif: Artificial Intelligence (AI). Kombinasi antara konsolidasi korporasi raksasa dan teknologi cerdas ini memunculkan satu pertanyaan besar: apakah ini awal dari efisiensi kreatif, atau justru ancaman bagi masa depan perfilman?
Netflix & Paramount: Konsolidasi Media yang Tak Terelakkan
Merger atau kolaborasi strategis antara Netflix dan Paramount mencerminkan tren besar yang sedang melanda industri media global: konsolidasi. Biaya produksi yang terus meningkat, kompetisi ketat antar streaming platform, serta tekanan profitabilitas membuat perusahaan media harus memilih bertumbuh atau tertinggal. Netflix unggul dalam data, teknologi, dan distribusi global, sementara Paramount memiliki kekuatan pada IP legendaris, studio film mapan, serta jaringan televisi tradisional. Jika digabung, keduanya berpotensi menciptakan “mega-entertainment company” dengan kontrol kuat atas produksi, distribusi, hingga monetisasi konten lintas platform.
Namun, di balik potensi tersebut, muncul kekhawatiran dari pelaku industri. Konsolidasi media sering kali berarti pengurangan jumlah studio independen, semakin sempitnya ruang eksperimen kreatif, dan meningkatnya kekuatan tawar korporasi terhadap kreator. Bagi audiens media-savvy, ini bukan sekadar berita bisnis, tapi sinyal perubahan struktur industri hiburan secara fundamental.
AI Masuk ke Ruang Produksi: Efisiensi atau Ancaman Kreativitas?
Jika merger adalah soal kekuasaan, maka AI adalah soal cara kerja. Pada 2026, penggunaan AI dalam industri film bukan lagi wacana futuristik. Teknologi ini sudah digunakan untuk penulisan draft skenario, analisis tren penonton, editing otomatis, hingga pembuatan visual efek berbasis generatif. Netflix sendiri dikenal sebagai pionir pemanfaatan data dan machine learning untuk menentukan jenis konten yang diproduksi. Ketika AI semakin terintegrasi, proses produksi film menjadi lebih cepat, lebih murah, dan lebih terukur.
Namun, pertanyaan etis dan kreatif pun mengemuka. Apakah film akan menjadi produk berbasis algoritma semata? Bagaimana posisi penulis, editor, dan kru kreatif manusia di tengah otomatisasi? Di sinilah perdebatan industri memanas. AI dianggap mampu memperluas kemungkinan storytelling, tetapi juga berpotensi menghilangkan “ketidaksempurnaan manusia” yang justru menjadi jiwa seni. Bagi media dan penonton kritis, ini adalah momen penting untuk mengamati bagaimana teknologi membentuk narasi budaya global.
2026: Masa Depan Industri Entertainment di Tangan Siapa?
Merger Netflix Paramount dan adopsi AI menandai satu fase baru industri entertainment: era industrialisasi kreatif. Konten tidak lagi hanya soal ide bagus, tetapi juga soal skala, data, dan efisiensi. Bagi audiens, dampaknya bisa beragam dari akses konten yang lebih luas hingga homogenisasi cerita. Bagi kreator, tantangannya adalah beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Dan bagi media seperti Wahana Media Entertainment, momen ini adalah peluang emas untuk menjadi jembatan informasi: mengurai kompleksitas industri, mengedukasi audiens, dan menjaga diskursus tetap kritis namun relevan.
Industri film global sedang berada di titik balik. Netflix, Paramount, dan AI bukan hanya headline, tapi simbol perubahan besar dalam cara hiburan diciptakan dan dikonsumsi. Apakah ini awal dari era emas baru atau justru krisis kreativitas, akan sangat ditentukan oleh bagaimana industri dan audiens meresponsnya.
Ikuti Wahana Media Entertainment untuk update, analisis, dan insight mendalam seputar dunia media, musik, film, dan budaya pop. Karena di era algoritma, literasi media adalah kekuatan.
