Wahana Media Entertaiment

Era Baru Marketing 2025: Brand Stop Bayar Influencer, Wefluence Jadi Senjata Utama

Wefluence 2025

Industri marketing sedang mengalami perubahan besar. Di 2025, makin banyak brand memilih untuk stop atau mengurangi signifikan penggunaan influencer berbayar dan beralih ke model baru bernama Wefluence. Bukan berarti influencer sudah tidak relevan, tetapi brand mulai mencari pendekatan yang lebih organik, lebih hemat, dan lebih dipercaya oleh Gen Z. Fenomena ini terjadi hampir di semua industri mulai dari beauty, F&B, FMCG, hingga entertainment dan menandai pergeseran ke strategi pemasaran berbasis komunitas dan suara kolektif.

Perubahan ini muncul karena biaya influencer semakin tinggi, namun tidak selalu memberikan dampak yang sebanding. Engagement organik terus menurun, sementara audiens makin peka membedakan mana konten yang benar-benar jujur dan mana yang sekadar berbayar. Di saat yang sama, audiens Gen Z lebih memilih konten real, jujur, dan apa adanya ketimbang konten yang sangat polished. Banyak brand akhirnya menyimpulkan bahwa influencer besar tetap punya tempat, namun tidak lagi menjadi pusat strategi marketing seperti dulu.

Di sinilah Wefluence mengambil peran. Wefluence adalah konsep pemasaran berbasis komunitas yang mengandalkan kekuatan micro creator, pelanggan setia, employees, dan kelompok komunitas yang memiliki trust lebih kuat daripada satu figur besar. Model ini lebih mengutamakan “influence by we, not by one.” Konten yang dihasilkan jauh lebih variatif, lebih natural, dan terasa relevan karena datang dari suara yang benar-benar dekat dengan audiens.

Bagi brand, Wefluence juga lebih efisien secara budget. Daripada membayar satu influencer dengan biaya besar, mereka bisa mendapatkan ratusan konten UGC (user-generated content) yang lebih organik dan memiliki engagement lebih tinggi. Micro dan nano creator punya daya tarik yang powerful karena mereka berbicara apa adanya, bukan sekadar promosi. Trust inilah yang membuat conversion dan purchase intent meningkat signifikan dari sisi brand.

Selain itu, Wefluence memungkinkan brand untuk membangun komunitas jangka panjang. Alih-alih campaign sekali lewat, Wefluence menciptakan hubungan dua arah antara brand dan para pendukungnya. Ini membuka peluang untuk membentuk brand ambassador circle, program loyalitas kreator, hingga kolaborasi komunitas yang lebih sustain. Pada akhirnya, strategi ini bukan hanya menjual, tetapi membangun ekosistem pendukung yang solid.

Untuk industri media dan entertainment seperti Wahana Media Entertainment, tren ini adalah peluang besar. Dengan Wefluence, brand bisa memanfaatkan kekuatan fans, komunitas musik, kreator niche, hingga public micro-figures untuk memperluas jangkauan. Konten promosi konser, perilisan musik, event, hingga program media akan lebih cepat menyebar jika narasinya datang dari komunitas yang aktif dan dekat dengan audiens. Ini menjadikan Wefluence bukan hanya metode promosi, tetapi fondasi baru dalam membangun interaksi antara brand, kreator, dan audiens.

Pada akhirnya, tren perpindahan dari influencer ke Wefluence bukan sekadar strategi marketing, melainkan respons terhadap perubahan budaya digital. Audiens kini menginginkan keaslian, interaksi real, dan rekomendasi yang tulus. Wefluence menjawab itu semua dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan lebih efektif. Di 2025, kekuatan pengaruh tidak lagi diukur dari jumlah followers, tetapi dari kualitas koneksi. Dan di era itu, “we” adalah sumber influence paling kuat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *