Laporan APJII 2025 menegaskan perubahan besar dalam pola konsumsi digital masyarakat Indonesia. Dengan pengguna internet mencapai 229 juta jiwa dan penetrasi 80,66%, Indonesia sudah sepenuhnya masuk ke era hyper-connected. TikTok menjadi platform paling dominan dengan 35,17% pengguna, disusul YouTube (23,76%) dan Facebook (21,58%). Tren ini menunjukkan bahwa konten video pendek dan visual yang cepat dikonsumsi kini menjadi format utama yang disukai masyarakat, terutama Gen Z. Platform berbasis teks seperti X mulai kehilangan relevansi dengan hanya 0,56% akses.
Pergeseran ini memberi dampak besar bagi industri media dan entertainment. TikTok bukan lagi sekadar platform hiburan, melainkan ruang distribusi informasi, edukasi, dan storytelling digital. Bagi media modern, format short-form video menjadi cara paling efektif menjangkau audiens muda yang menginginkan konten cepat, relevan, dan langsung ke intinya. Sementara itu, YouTube tetap menjadi wadah utama untuk konten mendalam seperti dokumenter, review, dan program premium. Kombinasi keduanya memungkinkan media menjangkau dua tipe audiens: yang mencari ringkasan cepat dan yang ingin eksplorasi lebih dalam.
Keuntungan terbesar bagi industri media adalah meningkatnya peluang konversi dan engagement. Dengan tingginya konsumsi konten video dan social entertainment, media dapat memperkuat strategi distribusi, mengaktifkan pendekatan multiplatform, dan membangun ekosistem konten yang lebih berkelanjutan. Data 2025 menunjukkan bahwa pengguna Indonesia makin responsif terhadap storytelling visual. Ini membuka ruang bagi media untuk bereksperimen dengan format kreatif, meningkatkan awareness brand, dan memperluas jangkauan melalui audiens muda yang lebih aktif, kritis, dan digital-native.
