Feeds

COVER EDISI KE. 59

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini78
mod_vvisit_counterKemaren90
mod_vvisit_counterTotal13409

Your IP: 38.107.179.224

STOP PRESS

Legenda Siti Nurbaya di Tanah Minang

  • PDF
Addthis

Jika berbicara Sumatera Barat sepertinya tidak pernah habis dengan cerita rakyat atau urban legend. Sebut saja salah satunya yakni kisah “Siti Nurbaya”. Langsung saja kerutan dahi kita mengingat peristiwa nikah paksa yang dilakukan seorang pengusaha tamak bernama Datuak Maringgih, terhadap anak Bagindo Sulaiman, Siti Nurbaya.

Padahal Siti telah dijodohkan oleh Syamsul Bahri sejak mereka masih kecil. Namun karena utang terhadap Datuak Maringgih, akhirnya Sulaiman merelakan anak gadisnya untuk dinikahkan pria berusia senja tersebut. Namun karena cintanya dengan Syamsul Bahri, Siti akhirnya mengakhiri hidupnya dengan memakan lemang beracun. Belakangan Syamsul dan Datuak Maringgih bertemu di medan perang dan akhirnya keduanya meninggal dunia.

Iya sepenggal cerita bersejarah ini menjadi populer sekira 1980-an. Saat itu televisi nasional di Indonesia memfilmkan buku yang ditulis oleh seorang sastrawan bernama Marah Rusli pada 1922 lalu. Cetakan dari Balai Pusataka ini pun menjadi kisah “Romeo dan Juliet” versi Sumatera Barat yang tak lekang oleh zaman. Bahkan salah satu band ternama di Indonesia membuat lagu berjudul “Siti Nurbaya.”

Legenda ini memang menjadi cerita bersejarah tidak hanya bagi warga yang terkenal Jam Gadang itu, namun cerita ini sudah menjadi dongeng rakyat Indonesia. Namun apakah Anda tidak penasaran dengan kebenaran legenda itu? Benarkah cerita itu dalam kenyataan atau hanya memang menjadi cerita semata.

Beberapa waktu lalu okezone.com mencoba penelusuran mengenai cerita rakyat tersebut. Penulis pun mendapat kabar adanya makam “Siti Nurbaya” berada di Gunung Padang. Tanpa menunggu waktu, penulis pun memulai perjalanan ke gunung yang berjarak sekira dua kilometer dari pusat kota. Membutuhkan waktu sekira 15 menit dengan mengendarai motor penulis bisa mencapai kaki Gunung Padang.


Penulis tidak perlu mengeluarkan uang untuk mencapai bukit setinggi 400 meter tersebut. Karena memang Pemerintah Provinsi tidak menyediakan loket penjualan karcis untuk memasuki gerbang “dahulu kala” itu.


Kaki penulis pun seakan tak lelah melintasi jalan setapak selebar satu meter itu. Bayangan akan sejarah tak ternilai itu pun melecut penulis untuk terus mencapai makam tersebut.

Setelah berjalan selama 30 menit, penulis pun menemukan pondok peristirahatan. Napas penulis yang mulai “kembang kempis” pun mencoba dinormalkan sembari menyelonjorkan kaki yang sudah keras akibat jalan menanjak.

Namun jangan khawatir, perjalan menuju jalan ini mata penulis seakan dimanjakan dengan pemandangan Kota Padang. Indahnya kota Gadang itu dan semilir angin, membuat badan penulis kembali bangkit.

Beberapa menit setelah istirahat, penulis pun kembali melanjutkan perjalanan menuju makam kekasih Syamsul Bahir itu. Jalan setapak yang berliku dan menanjak itu tidak menyurutkan penulis untuk melangkahkan kaki. Di jalan ini penulis harus ekstra hati-hati. Pasalnya, tangga dibuat oleh pemerintah sudah berlumut dan licin.

Sebelum mencapai makam Siti Nurbaya, penulis dihadapkan dengan persimpangan jalan. Jika penulis mengambil jalan lurus, maka akan mencapai Gunung Padang. Dan kalau mengambil arah kanan akan menemukan makam Siti Nurbaya. Penulis pun mengambil jalan ke arah itu.

Sampai di sini, penulis pun harus menempuh perjalanan menunduk dan turun sejauh 5 meter. Tak berapa lama, penulis akhirnya menemukan sebuah kuburan yang diselimuti kelambu putih.

Makam yang terbuat dari sebagian besar semen tersebut, terlihat indah dengan latar belakang pemandangan turunnya matahari atau sun set. Sayangnya nisan dari semen tersebut tidak terlihat jelas nama jasada yang dimakamkan. Warga sekitar meyakini makam tersebut sebagai makam Siti Nurbaya. Kuburan yang terlihat sedikit kusam itu tampak diapik dua buah batu. Bahkan dalam kondisi tertentu makam ini banyak didatangi warga.

Syahbudin Abas (43), warga sekitar, belum terlalu yakin bahwa makam tersebut adalah makam istri kesekian Datuak Maringgih. Namun dia mengakui berdasarkan cerita warga sekitar makam itu adalah Siti Nurbaya. (kaskus.us)


Baca Juga:

Tambahkan Komentar


Security code
Refresh

KOTA PADANG

Senin, 02-04-2012 [09:59 WIB]
Pendidikan Karakter Berlaku Untuk Semua...

Padang – WM. “Korupsi adalah musuh kita bersama, musuh rakyat dan harus kita cegah dan...

KAB. PESISIR SELATAN

Senin, 02-04-2012 [10:05 WIB]
Jelang Berlangsungnya UN 2012 Ortu Dihi...

Pesisir Selatan - WM. Detik-detik jelang Pelaksanaan Ujian Nasional Tahun 2012 yang Sudah Diambang Ma...

KAB. DHARMASRAYA

Senin, 02-04-2012 [09:57 WIB]
Bupati Dharmasraya – H. Adi Gunawan: J...

Dharmasraya – WM. “Jadilah generasi muda yang cerdas dan jujur, sehingga dapat menjadi...

KOTA PADANG PANJANG

Minggu, 01-04-2012 [18:39 WIB]
UN di Padang Panjang Diikuti 4.505 Siswa...

Padangpanjang - WM. Ujian nasional tahun ajaran 2011/2012 di Kota Padangpanjang, Sumatera B...

KAB. PASAMAN

Senin, 26-03-2012 [22:20 WIB]
UPTD Tigo Nagari Serahkan Bantuan Korban...

Pasaman – WM. Kepala Unit  Pelaksana Teknis  Daerah (UPTD) Dinas Pendidikan kecamatan T...

KAB. PADANG PARIAMAN

Senin, 02-04-2012 [10:05 WIB]
Jelang Berlangsungnya UN 2012 Ortu Dihi...

Pesisir Selatan - WM. Detik-detik jelang Pelaksanaan Ujian Nasional Tahun 2012 yang Sudah D...

KOTA BUKITTINGGI

Sabtu, 31-03-2012 [00:20 WIB]
SMP Negeri 5 Bukittinggi Program Sukses...

Bukittinggi – WM. SMP Negeri 5 Bukittinggi tidak diragukan lagi memiliki segudang prestasi di bidan...

KAB. LIMA PULUH KOTA

Senin, 02-04-2012 [10:05 WIB]
Jelang Berlangsungnya UN 2012 Ortu Dihi...

Pesisir Selatan - WM. Detik-detik jelang Pelaksanaan Ujian Nasional Tahun 2012 yang Sudah D...

KAB. PASAMAN BARAT

Senin, 02-04-2012 [09:53 WIB]
Sertijab Kepsek SMA Negeri 1 Pasaman Haw...

Pasbar – WM. Setelah memimpin SMA Negeri 1 Pasaman dalam waktu yang cukup singkat, Ahmad...